Tuesday, 27 January 2015

Laporan Fisiologi Tumbuhan " Investigasi Mikroskala dengan Katalase

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan judul “Investigasi Mikroskala Dengan Katalase disusun oleh:
Kelompok VI : 1. Adzhar Arsyad 
                                                  2. Salmida
                                                  3. Nur indah sari
                                                  4. Salmida
                                                  5. A. Fauziah Ridwan 
Kelas : A (Pendidikan Biologi)
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten/Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.


                                              Makassar, 07 Mei 2014
   Koordinator Asisten                                                Asisten



    Muhamad Padri                                   Muhamad Padri
    NIM : 101 414 014                           NIM : 101 414 014


Mengetahui
Dosen penanggung jawab praktikum


    
Andi Rahmat Saleh S.Pd, M.Pd
NIP: 19851010 200812 1 004
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
          Aktivitas sistem hidup dikontrol oleh enzim. Enzim merupakan molekul protein yang bertindak sebagai katalis biologi dengan karakterisitk. Pertama, fungsi dasar enzim adalah meningkatkan kecepatan reaksi. Umumnya reaksi selular terjadi jutaan kali lebih cepat dibandingkan dengan tanpa enzim. Kedua, umumnya enzim bekeja secara spesifik dengan hanya satu reaktan (disebut substrat) untuk menghasilkan produk (Ismail, 2014).  
         Secara kimia, umumnya enzim merupakan protein globular. (Beberapa molekul RNA  disebut ribosom dapat juga disebut enzim. Mereka biasanya terdapat di inti sel).  Enzim merupakan katalis yang memecah atau mensintesis senyawa kimia yang lebih kompleks. Enzim memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat untuk mendukung hidup. Kecepatan enzim jauh melebihi kecepatan reaksi kimia biasa, dengan menurunkan energi aktivasi. Enzim bekerja sangat efisien. Umumnya enzim dapat mengkatalisis reaksi antara 1 dan 10,000 molekul substrat per detik. Enzim hanya terdapat dalam jumlah kecil di dalam sel karena mereka tidak dapat diubah selama reaksi (Ismail,2014).
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi enzim 
       Bila konsentrasi substrat cukup tersedia, peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzim.
 2. Konsentrasi substrat
Pada konsentrasi enzim yang tetap dan konsentrasi substrat rendah, konsentrasi substrat merupakan faktor pembatas. Apabila konsentrasi substrat ditingkatkan, kecepatan reaksi enzim akan meningkat. Namun, pada konsentrasi substrat yang sangat tinggi, enzim akan menjadi jenuh dengan substrat dan konsentrasi substrat yang lebih tinggi tidak meningkatkan kecepatan reaksi.
 3. Temperatur
Tiap enzim mempunyai temperatur optimum dimana dapat bekerja dengan baik.  Sampai dengan temperatur optimum kecepatan reaksi meningkat dengan meningkatnya temperatur. Peningkatan kecepatan terjadi karena molekul enzim dan substrat keduanya mempunyai energi kinetik yang lebih untuk lebih sering bertabrakan, dan juga karena lebih banyak molekul mempunyai energi yang cukup untuk melampaui pembatas energi aktivasi. Peningkatan kecepatan reaksi terkait dengan temperatur dapat dihitung sebagai Q10 yang berarti peningkatan relatif untuk tiap 10oC.
  Bila temperatur terus meningkat di atas temperatur optimum, panas tersebut menyebabkan enzim mengalami denaturasi. Akibatnya enzim kehilangan bentuk fungsionalnya oleh rusaknya ikatan hidrogen. Temperatur dingin, pada sisi lain, menurunkan aktivitas enzim oleh penurunan gerak molekuler.
4. pH 
Tiap enzim mempunyai pH optimum yang membantu menjaga bentuk tiga-dimensiolnya. Perubahan dalam pH dapat menyebabkan denaturasi enzim dengan mengubah muatan enzim, sebagai contoh gugus R asam karboksil menjadi tidak bermuatan pada pH rendah (COOH), tetapi bermuatan pada pH tinggi (COO-). Perubahan ikatan ion enzim berkontribusi dalam bentuk fungsionalnya.  Untuk kebanyakan enzim pH optimum antara 7-8 (pH fisiologis umumnya sel), tetapi beberapa enzim dapat bekerja pada pH ekstrem, seperti enzim protease di dalam lambung hewan, yang mempunyai pH optimum 1. 
  
           Katalase adalah enzim yang mengandung heme, yang mengatalisis dismutase hydrogen peroksida (H2O2) menjadi air dan oksigen. Enzim ini ditemukan pada semau jenis eukariotik aerob yang penting untuk memusnahkan H2O2 yang terbentuk dalam peroksisom melalu reaksi oksidasi, seperti oksidasi asam lemak, siklus glioksilat (dalam fotorespirasi), dan katabolisme purin. Katalase adalah enzim yang umum ditemukan dalam jaringan hewan dan tumbuhan . Ini mengkatalisis pemecahan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen . Karena hidrogen peroksida adalah beracun produk sampingan dari metabolisme dalam sel tanaman tertentu dan sel-sel hewan , katalase membantu melindungi sel dari efek racun dari hidrogen peroksida oksigen air katalase hidrogen peroksida (Fred, 1926). 
         Enzim katalase bersifat heat resistant (tahan panas) dalam buahan buahan dan sayuran. Enzim katalase mempunyai 4 molekul subunit. Masing masing subunit mengandung gugus protohemin yang membentuk bagian dari 4 tapak aktif yang bebas. Pada pH netral katalase akan kehilangan aktivitasnya dengan cepat pada suhu 35oC (Haris, 2010). 
        Dalam tumbuhan katalase mempunyai fungsi yaitu berupa kemampuan untuk menghilangkan H2O2  dalam oksidasi fenol, alcohol, dan donor hydrogen lain. Gabungan glukosa oksidase dan katalase dipakai dalam sejumlah pemprosesan makanan. Adanya gelembung udara ketika dilakukan percobaan menandakan aktivitas enzim katalase (Heri, 1998).
            Katalase sering digunakan dalam penyelidikan untuk mempelajari aksi enzim . Kadang-kadang sulit untuk mengukur aktivitas katalase dari jaringan hidup dengan cara yang obyektif dengan hanya mengamati pembentukan gelembung . Penelitian ini menggunakan metode yang agak sederhana dan obyektif untuk memperkirakan laju reaksi katalase . Tingkat aktivitas katalase diperkirakan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk kertas cakram direndam dengan ekstrak enzim untuk muncul dari bawah solusi hidrogen peroksida ke permukaan . langkah dari disk kertas adalah karena pembentukan oksigen gelembung dari reaksi katalase. 
            Katalase (CAT , H2O2 : oksidoreduktase H2O2 , EC 1.11.1.6 ) dengan pembilasan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen adalah enzim penting mekanisme pertahanan sel terhadap stres oksidatif pada tanaman ( Dat et al 2003; . Foyer dan Noctor 2000). Katalase didistribusikan secara luas dalam berbagai organisme , termasuk hewan, tumbuhan , semua mikroorganisme aerobik dan beberapa organisme anaerobik (Gulnur, 2010).
      Organisme yang berbeda telah menunjukkan aktivitas catalas berbeda . di tanaman , beberapa isoform enzim biasanya hadir , dan mereka dinyatakan dalam jaringan yang berbeda dan perkembangan tahap . Dalam hijau daun sebagian besar aktivitas CAT ditemukan dalam peroksisom ( Foyer dan Noctor 2000; Scandalioset al 1997. ). CAT scavenges H2O2 dihasilkan selama β – oksidasi asam lemak , transpor elektron di mitocondria dan oksidasi photorespiratory ( Havir dan McHale 1987 ; Kunce dan Trelease 1986) . Katalase adalah enzim yang paling efisien enzim antioksidan yang menurunkan , hidrogen peroksida atau superoksida menumpuk ke tingkat beracun di pabrik growt h ( Bowler et al 1992; . Brenan dan Frenkel, 1977). Katalases sebagian besar adalah heme yang mengandung tetrameric protein (Gulnur, 2010).
Enzim katalase memiliki diisolasi , dimurnikan dan ditandai dari berbagai eucaryot dan procaryot organisme . Perbandingan kucing menunjukkan berbagai kegiatan dan sifat kinetik katalase memiliki dilaporkan ada di banyak tanaman , seperti bayam , jagung , kapas , bunga matahari , tembakau , van apel , dan peterseli ( Garcia et al . 2000; Mullen dan Gifford 1993; Yoruk 2005; Lokman et al . 2007) . Ilmu berbagai catalases dimurnikan sejauh telah menunjukkan karakteristik yang berbeda dan juga catalases dari penghijauan kotiledon labu telah dimurnikan dan ditandai dengan aktivitas katalitik rendah (Gulnur, 2010).


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Kelompok Jenis bahan Waktu (s)
1 Cucumis sativus 36,47
2 Musa paradisiaca 26
3 Musa paradisiaca 38
4 Pyrus malus -
5 Pyrus malus -
6 Cucumis sativus 50
7 Solanum licopersicum 14
8 Solanum licopersicum 14
9 Solanum licopersicum -
10 Solanum licopersicum -

B. Pembahasan
Pada kegiatan praktikum investigasi mikroskala dengan katalase, dimana dalam kegiatan ini akan diamati apakah ada aktivitas enzim katalase yang ditandai dengan disc yang dimasukkan ke dasar  supernatan akan kepermukaan dan ditandai denan munculnya gelembung udara yang merupakan pertanda adanya molekul O2 hasil dari penguraian H2O2.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman Cucumis sativus memiliki enzim katalase yang rendah dikarenakan memerlukan waktu yang lama untuk dics kepermukaan supernatan setelah dimasukkan ke dalam supernatan. Kinerja suatu enzim dipengaruhi konsentrasi enzim tersebut, semakin banyak enzim yang terlibat maka semakin cepat pula reaksi berlangsung, enzim akan menurunkan energy aktivasi untuk mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi.
Pada tanaman Musa paradisiaca menunjukkan bahwa tanaman ini memerlukan waktu yang lebih lama agar disc kepermukaan supernatan sehingga dapat diketahui bahwa Musa paradisiaca memiliki kadar enzim katalase yang lebih rendah dibandingkan dengan cucumis sativus. Walaupun demikian tetap menghasilkan gelembung udara dalam jumlah yang tidak sebanyak tanaman cucumis sativus yang menjadi indikator adanya enzim katalase yang mereduksi H2O2 menjadi H2O dan O2.
Tanaman pyrus malus menunjukkan bahwa tidak memiliki enzim katalase dikarenakan disc yang telah di rendam di dalam supernatan pyrus malus kemudian dimasukkan kedalam larutan peroksida tidak naik menuju permukaan supernatan serta tidak adanya gelembung udara yang menjadi indikator adanya aktivitas enzim katalase.
 Pada tanaman Solanum licopersicum, 2 tanaman menujukkan keberadaan enzim katalase yang banyak yang ditandai dengan naiknnya disc kepermukaan supernatan dalam waktu yang singkat,  serta adanya gelembung udara, sedangkan 2 tanaman lainya tidak menujukkan keberadaan enzim katalase karena disc tidak naik menuju permukaan supernatan serta tidak timbul gelembung udara.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu enzim katalase menguraikan H2O2 yang ditandai dengan adanya gelembung yang muncul pada supernatan ketika disc dimasukkan serta disc bergerak menuju permukaan larutan supernatan.  Selain itu, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan oleh disc untuk sampai kepermukaaan larutan supernatant, maka semakin besar konsentrasi enzim katalase yang dimiliki oleh buah tersebut.
B. Saran
Untuk praktikum selanjutnya, agar supaya asisten membimbing praktikan dengan baik selama praktikum. 
DAFTAR PUSTAKA


Copelan, Laurence. 1995. Principles of Seed Science and Technology. USA: Springer. 

Ismail. 2014. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

 Gulnur. 2010. Partial Purification and Some Properties of Catalase from Dill (Anethum graveolens L.) Turkey : Sakarya University, Faculty of Arts & Science, Department ofChemistry. E-jurnal of Sakarya University.

Lloyd Overley, Fred. 1926. A Study of the Catalase and Oxidase Activities of Fruits. USA : Washington Agricultural Experiment Station.

Winarsi, Heri. 1998.  Protein Kedelai dan Kecambah. Jakarta: Erlangga.






LAPORAN FISIOLOGI TUMBUHAN “PENGARUH KARRIKINS TERHADAP PERKECAMBAHAN

LAPORAN FISIOLOGI TUMBUHAN
“PENGARUH KARRIKINS TERHADAP PERKECAMBAHAN”












OLEH:
Adzhar Arsyad
Salmida
Nurmia. RS
A. Fauziah Ridwan




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2014
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan judul “ Pengaruh Karikins Terhadap Perkecambahan” disusun oleh:
Kelompok VI       : 1. Adzhar Arsyad 
                                             2. Salmida
                                             3. Nur indah sari
                                             4. Salmida
                                             5. A. Fauziah Ridwan 
Kelas       : A (Pendidikan Biologi)
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten/Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.

                                                  Makassar, 07 Mei 2014
   Koordinator Asisten                                                    Asisten



    Muhamad Padri                                          Muhammad Padri
    NIM : 101 414 014                                  NIM : 101 414 014
Mengetahui
Dosen penanggung jawab praktikum


    
Andi Rahmat Saleh S.Pd, M.Pd
NIP: 19851010 200812 1 004

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
         Tumbuhan memperoleh nutrisi dari tanah dan atmosfir. Dengan menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi, tumbuhan dapat menyusun semua bahan organik yang diperlukannya dengan memodifikasi karbohidrat hasil fotosintesisnya. Walau demikian, tumbuhan harus memperoleh berbagai mineral dengan menggunakan sistem perakarannya. Karena tumbuhan bersifat sesil dan autotrofik, maka: harus memperoleh nutrient yang diperlukan dari medium dimana mereka tumbuh (Ismail, 2014).
            Sekitar 80% berat tubuh organisme adalah air. Hal ini berarti bahwa air sangat vital keberadaannya. Hampir semua reaksi kimia dalam tubuh berlangsung dalam keadaan terlarut. Salah satu fungsi air itu adalah pemanjangan dan pertumbuhan sel. (Ismail, 2014).
        Secara umum, hormon-hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan memengaruhi pembelahan, pemanjangan, dan differensiasi sel-sel. Beberapa jenis hormon dapat juga memerantarai respons-respons fisiologis tumbuhan yang berjangka lebih pendek terhadap stimulus-stimulus lingkungan , setiap hormon memiliki efek ganda, bergantung pada tempat kerja konsentrasi, dan tahap perkembangan tumbuhan. Hormon tumbuhan diantaranya adalah auksin, sitokinin, giberelin, brasinosteroid, asam abisat, dan etilen (Campbell, 2008).
            Hormon adalah molekul sinyal yang dihasilkan dalam jumlah kecil oleh salah satu tubuh organisme dan ditranspor kebagian-bagian yang lain, tempat hormon berikatan ke suatu reseptor spesifik dan memicu respons-respons didalam sel-sel dan jaringan-jaringan target. Hormon-hormon tumbuhan dihasilkan dalam konsentrasi yang sangat rendah, namun hormon dalam jumlah yang kecil dapat memiliki efek yang besar pada pertumbuhan dan perkembangan organ tumbuhan. Suatu hormon bisa bertindak dengan mengubah ekspresi gen-gen, memengaruhi aktivitas enzim-enzim yang sudah ada, atau mengubah sifat-sifat membran. Tindakan manapun dapat mengarahkan kembali metabolisme dan perkembangan sebuah sel yang merespons molekul-molekul hormon dalam jumlah kecil (Campbell, 2008).
            Pertumbuhan  tanaman  yang  berasal  dari  biji  diawali  dari  proses  perkecambahan.  dalam pertumbuhannya memerlukan  energi,  dan  energi  tersebut  berasal  dari  perombakan  bahanbahan  organik  seperti  karbohidrat  lemak  dan  protein (Bahri,2012).
Cahaya matahari mempunyai peranan besar  dalam  proses  fisiologi  tanaman  seperti  fotosintesis,  respirasi,  pertumbuhan dan  perkembangan,  menutup  dan  membukanya  stomata,  dan  perkecambahan tanaman,  metabolisme  tanaman  hijau,  sehingga  ketersediaan  cahaya  matahari menentukan  tingkat  produksi  tanaman.  Tanaman hijau  memanfaatkan  cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan  lilit  batang  tumbuh  lebih  cepat,  susunan  pembuluh  kayu  lebih sempurna,  internodia  menjadi  lebih  pendek,  daun  lebih  tebal  tetapi  ukurannya lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya matahari penuh yang melebihi kebutuhan optimum akan dapat menyebabkan layu, fotosistesi  lambat,  laju  respirasi meningkat  tetapi  kondisi  tersebut  cenderung mempertinggi daya tahan tanaman (Puspitasari,2012).
Perubahan cadangan makanan  menjadi  zat-zat  yang  lebih  mobil  menyebabkan  pengangkutan  merata              keseluruh  bagian  embrio  sehingga  benih dapat berkecambah. Pembentukan  enzim  alfa  amylase  terjadi pada  saat permulaan perkecambahan oleh giberelin  internal.  Jika giberelin  internal  berada  dalam  jumlah  terbatas  atau  belum aktif  maka  proses  perkecambahan  akan berjalan  lambat.  Dengan  adanya  penambahan  giberelin  eksternal  menyebabkan terjadinya  peningkatan  jumlah  giberelin  di  dalam  benih, sehingga  meningkatkan ketersediaan  dan  aktivitas  enzim  alfa amylase. Perubahan  cadangan makanan  menjadi  zat-zat  yang  lebih  mobil menyebabkan  pengangkutan  merata  keseluruh  bagian  embrio  sehingga  benih dapat berkecambah (Asra,2014).
              Germinansi bergantung pada imbibisi, pengambilan air akibat potensial air yang rendah pada biji kering. Imbibisi air menyebabkan biji mengembang dan selaput biji merekah dan juga memicu perubahan-perubahan metabolik didalam embrio yang membuat embrio kembali tumbuh. Setelah dehidrasi, enzim-enzim mulai mencerna material-material simpanan endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutrien ditransfer kebagian-bagian embrio yang sedang tumbuh (Campbell, 2008). 
        Selain  imbibisi yang mempercepat terjadinya germinasi. Bahan kimia bioaktif dalam asap diidentifikasi sebagai karrikinolide, sebelumnya disebut sebagai "butenolide" (3-metil-2H-furo (2,3 c) pyran-2-satu) anggota dari kelas karikins akan mempercepat pemecahan dormansi biji sehingga terjadi germinasi (flematti di al 2004. ). Ada beberapa karrikins aktif, dinotasikan KAR1 melalui KAR4. Ini telah dibandingkan dengan strigolactones, yang memiliki sebagian kemiripan struktural semua karrikins adalah sebagai efektif sebagai strigolactones dalam pemecahan dormansi. efek positif dari asap pada perkecambahan biji tidak terbatas pada spesies yang asli ke habitat rawan kebakaran. Asap sekarang dianggap sebagai promotor kimia umumnya efektif yang menambah perkecambahan beberapa spesies 1200 di lebih dari 80 genera di seluruh dunia (Dixon et al.2009). Asap pada umumnya dan senyawa bioaktif, seperti karrikins, memiliki potensi untuk digunakan sebagai alat manajemen untuk rehabilitasi lahan, konservasi tanaman dan pengendalian gulma. Namun, informasi penting untuk aplikasi seperti kurang, misalnya stabilitas senyawa ini di dalam tanah, apakah mereka dimetabolisme oleh tanaman dan mikroorganisme, dan bagaimana mereka mempengaruhi organisme ( Jefferson, 1999). 
               Adapun mekanisme aksi karrikins, seperti cahaya, menyebabkan secara tidak langsung peningkatan ekspresi dua gen GA3 oksidase utama, GA3ox1 dan GA3ox2 (ara 6.3) tetapi tidak muncul untuk mempengaruhi salah satu gen kunci yang terkait dengan sintesis ABA atau katabolisme. Karrikins awal signaling termasuk MAX2 F-kotak protein. Menariknya, Arabidopis MAX2 mutan memiliki dormansi fenotipe enchanced. Meskipun kesamaan struktural antara karrikins dan strigolactones (ara 6,4) poin bukti terbaru untuk mekanisme signaling yang berbeda ( Jefferson, 1999).
HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
Hari ke- Kacang Hijau (Control) Perilaku yang diberikan (Tempat)
Pertambahan tinggi (cm)
1 1,5 1,2 1,2 0,5 0,8 0,6 0,5 0,7 Intensitas cahaya rendah 
10 17 20 19,8 18,2 22 21 16,5 16 Intensitas cahaya rendah

Hari ke- Kacang Hijau (Diasapi) Perilaku yang diberikan (Tempat)
Pertambahan tinggi (cm)
1 1,5 1,0 0,8 1 0,7 0,6 1 0,8 Intensitas cahaya rendah
10 26 17 18 11,2 23 22,5 19,5 19 Intensitas cahaya rendah

Hari ke- Kacang Tanah (Diasapi) Perilaku yang diberikan (Tempat)
Pertambahan tinggi (cm)
1 0,2 0,4 0,1 0,6 0,2 0,2 0,3 0,4 Intensitas cahaya rendah
10 4 5 10 14 6 4 9 5 Intensitas cahaya rendah

B. Pembahasan
       Berdasarkan hasil pengamatan pengaruh pengasapan terhapa perkecamabahan diperoleh data yang menunjukkan bahwa biji kacang hijau yang diasapi cenderung akan lebih cepat mengalami germinasi dibandingkan dengan kacang tanah yang tidak diasapi., walaupun sebagaian dari biji kacang tanah yang diasapi menunjukkan perlambatan dalam mematahkan masa dormansinya. Sedangkan untuk biji kacang tanah menunjukkan adanya percepatan dalam mematahkan masa dormansiny
       Pengaruh karrikins yang terdapat pada asap akan menyebabkan aktifnya hormone hormone pertumbuhan seperti giberelin dan auksin yang terdapat pada biji,  Kombinasi dari giberellin dan asap yang mengadung karrikin akan mengefektifkan pematahan dormansi dalam biji. 
           Adanya  percepatan dalam mematahkan dormansi sehingga proses perkecambahan cepat terjadi, berdasarkan hasil pengamatan disebabkan karena intensitas pengasapan yang cukup lama sehingga konsentrasi karrikins akan besar  pula.  Karrikins dengan konsentrasi yang besar dan asam giberelin saling berkombinasi dan memakai cahaya merah (640 nm) untuk mematahkan dormansi. 
         Adapun biji yang terlambat dalam mematahkan dormansinya pada kegiatan praktikum ini dikarenakan kurangnya konsentrasi karrikins yang diterima oleh biji tersebut. Konsentrasi karrikins yang rendah tidak akan memberikan dampak yang  signifikan terhadap pematahan dormansi biji. 
        Menurut Lara Jefferson (1999), konsentrasi karrikins yang diterima oleh biji selama pengasapan akan mempengaruhi lama pematahan masa dormansi biji. Konsentrasi yang tinggi  akan mematahkan masa dormansi lebih cepat namun karrikins dengan konsentrasi yang rendah tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses pematahan dormansi pada biji. 

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu zat karrikins yang terkandung dalam asap akan mematahkan dormansi biji sehingga mempercepat proses perkecambahan . Semakin tinggi konsentrasi karrikins yang diterima oleh biji maka semakin cepat biji akan mengalami perkecamabahan. Namun sebaliknya apabila konsentrasi karrikins rendah, maka tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap masa dorman biji.
B. Saran
Untuk praktikum selanjutnya, agar supaya asisten membimbing praktikan dengan baik selama praktikum. 






DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Aswaldi. 2010. Metode Perkecambahan Benih Tanaman Andalas  (Morus macroura Miq.).  Padang: Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.

Asra. Biospecies Vol. 7 No.1, Januari 2014, hal. 29-33. “Pengaruh Hormon Giberelin (GA3) Terhadap Daya Kecambah dan Vigoritas (Calopogonium caeruleum)”. Jambi: Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi.

Bahri, syaiful. Jurnal Natural Science Desember 2012 Vol. 1.(1) 132-143.  “Karakterisasi Enzim Amilase Dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L.)” Tadulako: Lab. Kimia Organik Jur. Kimia Fakultas MIPA, Universitas Tadulako.

Campbell.2008.Biologi Edisi 8 Jilid 2.Jakarta:Erlangga.

Damayanti S, Ratna. 2010. Aplikasi Cuka Kayupinus Pada Teknik Perkecambahan  Benih Mindi (Melia azedarach). Bogor: Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor.

Ismail. 2014. Fisiologi Tumbuhan. Makassar: FMIPA UNM. 

Jeffreson, 1999. Aplication of Seed Science and Technology. USA: Springer press. 

Puspitasari, Ervin. 2012. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max). Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Madiun.

Tuesday, 6 January 2015

Struktur Bunga

Struktur Bunga 2 - Buttercup dan Stitchwort


variasi
      Dalam banyak bunga, kelopak atau sepal bergabung untuk sebagian atau seluruh jalan sepanjang panjangnya, membentuk struktur tubular seperti dalam foxglove dan keluarga deadnettle. Dalam bunga seperti buttercup semua kelopak adalah ukuran yang sama dan tidak bergabung. 
Buttercup      
   (Ranunculus bulbosus). Ada lima sepal, lima kelopak, tidak bergabung dengan nectaries di basis mereka, tetapi meringkuk kembali di buttercup bulat: lima kelopak, dengan nectaries di basis mereka, tidak bergabung, sekitar enam puluh benang sari, tiga puluh atau empat puluh karpel terpisah dari satu sama lain , dengan gaya pendek, masing-masing berisi bakal biji tunggal.
Stitchwort besar (Stellaria holostea)
   Lima sepal, belum bergabung. Kelopak putih dengan celah yang mendalam di setiap. Cincin luar lima benang sari panjang dan cincin bagian dalam lima benang sari pendek. Bagian betina terdiri dari tiga karpel bergabung bersama untuk membuat ovarium tunggal, dengan banyak bakal biji, dan bantalan tiga stilus.





Fungi- Rhizopus

      Struktural dasar jamur tidak sel tetapi hifa. Hifa benang percabangan mikroskopis. Setiap thread terdiri dari sebuah tabung yang dibentuk dari dinding melampirkan sitoplasma dan vakuola a. Dinding hifa tidak terbuat dari selulosa tetapi zat yang disebut kitin, senyawa nitrogen organik. Hifa mengandung banyak inti didistribusikan ke seluruh sitoplasma. Kadang-kadang hifa dibagi menjadi kompartemen oleh dinding silang.


       Jamur tidak memiliki klorofil sehingga mereka tidak dapat membuat makanan mereka dalam cara yang tanaman lakukan. Mereka memakan bahan organik mati atau membusuk dan diklasifikasikan sebagai saprophytes. Hifa mereka menembus bahan mati dan membentuk jaringan percabangan yang disebut miselium.
      Ujung hifa tumbuh menghasilkan enzim yang mencerna bahan organik. Produk larut diserap ke dalam hifa. Ketika bentuk jamur, seperti Rhizopus, tumbuh pada roti basi atau busuk buah, miselium dapat dilihat sebagai 'fuzz' keabu-abuan.
         Rhizopus adalah jamur jamur yang tumbuh pada roti basi atau buah membusuk. Ini mereproduksi secara aseksual dengan mengirimkan up hifa vertikal. masing-masing membengkak di ujung untuk menghasilkan sporangia a. Sitoplasma di sporangium membagi berulang kali untuk menghasilkan massa spora, masing-masing dengan inti. Ketika mereka sporangium istirahat terbuka, spora tersebar di udara, dan masing-masing dapat tumbuh membentuk miselium baru jika tanah pada bahan yang cocok. Ada juga metode seksual reproduksi.

sumber : http://www.biology-resources.com/fungi.html




Morfologi Ikan Secara Umum

(Source :http://www.biology-resources.com/fish.html )

       Ikan adalah vertebrata - yaitu mereka memiliki tulang punggung. Dalam kebanyakan kasus tubuh mereka ditutupi dengan sisik tumpang tindih. Meskipun mereka sering disebut suhu mereka 'berdarah dingin' bervariasi dengan lingkungan mereka. Ikan tropis akan memiliki darah hangat daripada ikan di Laut Utara. Mereka berkembang biak dengan bertelur yang biasanya dibuahi secara eksternal, yaitu rilis laki-laki sperma atas mereka karena mereka melarikan diri dari tubuh wanita. Beberapa spesies memiliki fertilisasi internal di mana sperma dimasukkan ke dalam tubuh betina. Ikan bernapas dengan mengalirkan arus air atas insang mereka. Banyak ikan memiliki bentuk 'ramping' yang memungkinkan gerakan relatif cepat melalui air. Kebanyakan ikan berenang dengan gerakan bergelombang tubuh mereka
  1. Mulut - mengambil makanan dan memungkinkan aliran air di atas insang.
  2. Lubang hidung sebelah - lubang yang berakhir ke organ penciuman.
  3. Operkulum - selimut dan melindungi insang dan memungkinkan air keluar dari mereka
  4. dada dan sirip perut - membantu untuk mengarahkan dan menstabilkan ikan
  5. Sirip punggung dan perut - mengurangi gerak bergulir selama berenang dan membantu dalam mengubah gerakan
  6. Sirip ekor - menanamkan dorongan terakhir dalam gerakan renang
  7. dada dan sirip perut - membantu untuk mengarahkan dan menstabilkan ikan
  8. Gurat sisi - tabung  panjang yang terdapat di tubuh tepat di bawah kulit. Itu diisi dengan jelly seperti cairan dan memiliki ujung saraf sensorik. Ini adalah alat indera yang merespon perubahan tekanan, misalnya pergerakan air



Siklus Calvin

SIKLUS CALVIN.
 Tahukah anda mengapa dikatakan siklus calvin?
Jawabannya mungkin sederhana karena penemu siklus ini bernama Melvin Calvin berasal dari Universitas Barkeley California. Itulah salah satu cara untuk mengenang dan menghargai jasanya terhadap temuan pentingnya ini dengan memberi nama siklus tersebut
Sekilas tentang penamaan siklus calvin.
Siklus calvin sering disebut sebagai siklus /reaksi gelap. Sebagaimana yang sering dituliskan dibuku-buku pelajaran SMA (sekolah menengah Atas) ataupun SMP (Sekolah menengah Pertama) bahkan Buku Diktat Universitas. Penamaan siklus calvin sebagai reaksi gelap dikarenakan tidak membutuhkan cahaya ataupun berlangsung dalam keadaan gelap. Istilah ini menyesatkan karena ada tumbuhan dimana siklus /reaksi gelap ini berlangsung disiang hari semisal pada tanaman CAM, dimana reaksi pembentukan ATP dan NADPH pada grana (Reaksi terang ) terjadi dimalam hari sedangkan siklus calvin terjadi pada siang hari.
Siklus calvin merupakan rangkaian dari proses yang terjadi dalam proses fotosintesis tumbuhan untuk menghasilkan zat makanan yang sering dikatakan sebagai Glukosa. Siklus calvin terjadi di bagian stroma. Dalam proses yang terjadi pada siklus calvin, CO2 yang berasal dari udara akan dikonversi menjadi molekul prekursor untuk membentuk glukosa yaitu Gliseraldehid 3-fosfat (G3P). yang kemudian menjadi glukosa untuk dimanfaatkan oleh tumbuhan ataupun organisme lain. Namun proses CO2 menjadi G3P tidak akan terjadi bilamana ATP dan NADPH tidak ada. Maka disinilah peranan reaksi terang yang menghasilkan ATP dan NADPH untuk digunakan dalam siklus calvin. Perhatikan gambar dibawah ini:

Gambar 1.1 Siklus Calvin
Gambar 1.2 G3P menjadi Glukosa
Gambar 1.3 Nasib Glukosa (Amilum/Selulosa)

Dari gambar diatas terlihat bahwa dalam siklus calvin terdapat tiga tahapan utama yaitu:
1.      Fiksasi CO2
2.      Reduksi
3.      Regenerasi

A.    Fiksasi CO2
         CO2 yang berasal dari udara akan difiksasikan/ dilekatkan ke molekul berkarbon 5 (C-5) yaitu  Ribulosa biposfat (Rubp) dengan bantuan enzim Rubp Karboksilase atau dikenal dengan sebutan enzim Rubisco. Enzim memiliki afinitas yang tinggi terhadap CO2 maupun O2 dan merupakan enzim/ protein yang paling melimpah dimuka bumi. Hasil fiksasai CO2 dengan ribulosa biposfat akan membentuk senyawa intermediet berkarbon 6 (C6) yang tidak stabil sehingga dengan cepat akan diubah menjadi 2 molekul berkarbon 3 yaitu 3- fosfogliserat.
B.     Reduksi
         Dinamakan fase reduksi karena pada tahap ini terjadi serah terima elektron dari NADPH. 3- fosfogliserat akan difosforilasi oleh ATP yang berasal dari reaksi terang membentuk 1,3- bifosfogliserat. Kemudian NADPH akan teroksidasi dan memberikan elektronnya pada 1,3- bifosfogliserat. Yang menyebabkan 1,3- bifosfogliserat berubah menjadi gliseral dehid 3-fosfat (G3P) dikarenakan gugus 1,3- bifosfogliserat yang semulanya merupakan gugus karboksil berubah menjadi gugus aldehid.  Kemudian G3P diubah menjadi glukosa nantinya. Dalam sekali siklus terjadi 1 molekul CO2 akan menghasilkan 6 molekul G3P. 5 molekul G3P akan diregenerasi menjadi Ribulosa-bifosfat. 1 molekul akan menjadi precursor pembentukan glukosa. Sehingga dibutuhkan 6 molekul CO2 untuk menghasilkan 1 molekul glukosa (C-6). Totalnya 6 CO2 mengalami siklus membutuhkan 18 ATP (12 ATP untuk Fosforilasi 3PG dan 8 ATP untuk regenerasi Ribulosa bifosfat)  dan 12 NADPH.
C.     Regenerasi
        Tahap ini berguna agar siklus Calvin tetap berjalan dikarenakan apabila tidak ada tahap regenerasi maka tidak ada molekul yang akan mengikat/memfiksasi CO2 untuk membentuk molekul prekursor glukosa.
Pada tahap ini 5 Molekul G3P akan diregenerasi melalui tahap yang panjang untuk menghasilkan ribulose bifosfat dengan menggunakan energy dari ATP.

 Rujukan Utama:
Ismail. 2013. Fisiologi Tumbuhan. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM
Campbell. 2014. Biologi Tenth Edition Jilid I. New York: Copyright © 2014.Pearson Education, 






Siklus Hidup Kupu-Kupu